Semiotika

Pilihan Hidup

Dalam sendi kehidupan yang tulus, ternyata masih banyak orang yang ragu dalam memilih sistem hidup tertentu. Ada yang dalam kehidupannya lebih condong kepada penilaian orang kebanyakan. Yang seperti ini pada umumnya lebih mementingkan reputasi dan mengakuan masyarakat dibanding hal remeh temeh lainnya.

Karena reputasi adalah tujuan, segalanya menjadi halal. Tidak perlu heran jika ada seseorang yang rela memberikan segalanya demi sebuah pengakuan, penghargaan serta dukungan dari orang lain. Karena mereka secara tidak sadar telah menjadikan penilaian orang lain tersebut menjadi sebuah sistem yang wajib untuk dianut.

Ada juga yang menjadikan idealismenya sebagai satu-satunya pijakan prinsip dalam kehidupannya. Baginya, semua pandangan orang lain adalah salah karena mereka tidak membutuhkan pengakuan apapun dari orang lain. Orang yang semacam ini biasanya melabeli dirinya sebagai ‘pelawan arus’.

Tidak ada yang salah untuk menjadi salah satu satu dari keduanya. namun satu hal yang perlu digaris-bawahi. Menjadi realistis atau idealis merupakan sebuah kepastian, bukan kepalsuan.

Sebelum menetapkan hati untuk memilih, ada baiknya untuk menemukan sebuah kebenaran hakiki. Sebuah kebenaran yang memang telah kita buktikan sendiri sehingga menciptakan sebuah keyakinan tentang kebenaran.

Selama kebenaran yang menjadi sandaran, mengikuti atau melawan penilaian orang banyak bukan lagi menjadi soal karena sekarang, yang menjadi permasalahannya adalah bagaimana menyebarkan pesan kebenaran ini. Karena kebenaran itu hanya ada pada Sang Pencipta dan Ia telah meridhoi Islam sebagai dien kita.

Categories: Uncategorized

Kunci Sukses »

3 Comments

  1. Aduh ngga kuat bacanya, kaya ngambil matkul tingkat dewa. haha

  2. Intinya, kita harus mengetahui, siapa yang berhak menentukan benar dan salah itu ya, Mas?

Tinggalkan Balasan

Email Kamu Ga Bakal di Publikasikan.

*

Copyright © 2017 Semiotika

Theme by Anders NorenUp ↑