Semiotika

Memaknai Gendam

Ada yang bilang kalau gendam itu adalah sebuah ilmu hitam yang bisa mempengaruhi pikiran korbannya.  Misalnya dari mitos yang pernah dikatakan oleh Mbah Jenar dalam situs pribadinya, beliau menyatakan kalau asal muasal ilmu gendam itu sebenarnya dimulai dari kisah pewayangan dewi kunti yang diberi ajian gendam oleh gurunya. jika mantra di rapal, siapapun orang yang dikehendaki, bahkan dewa pun dapat di panggil ke hadapan si pemilik ilmu gendam.

Namun fakta yang terjadi di lapangan sepertinya rada beda sama mitos-mitos yang selama ini sudah terlanjur menyebar. Contohnya saja waktu saya menemani mas Roy di Mapolda yang kebetulan polisinya lagi mengintrograsi dua orang malang yang tertangkap tangan telah melakukan aksi gendam yang dilakukan melalui telepon seluler.

Sebut saja Mus, 41 tahun dan Chairil 34 tahun (nama sebenarnya). Dilaporkan telah melanggar pasal 378 KUHP karena telah memperdaya korbannya. Modus operandi mereka sebenarnya cukup sederhana.

Ceritanya Mus berpura-pura menjadi penjual barang antik. Lalu ia melakukan segmentasi target kepada calon korbannya ke dalam kategori primer status ekonomi sosial menengah atas. Melalui hasil pengamatan secara fisiografi, Mus berkenalan secara langsung demi mendapatkan identitas target. Ya, dengan direct selling.

Setelah itu, ritual gendam pun akhirnya dimulai. Mus meyakinkan target kalau barang yang dijualnya itu memiliki nilai sejarah yang tinggi. Lalu Mus memasang harga yang tinggi, 90 Juta untuk sepasang guci cantik berbahan porselin yang terlihat agak tua. Target pun pastinya menolak karena harganya lumayan mahal.

Mus tidak kecewa, soalnya ia memang tidak punya tujuan untuk menjual guci itu pada waktu yang sama. Tugasnya hanyalah untuk menjalankan ritual gendam dengan cara meyakinkan target kalau ia memiliki barang mahal. Mus pun pulang dengan berlapang dada.

Malamnya target ditelepon oleh Mus, ia mengatakan kalau ada pembeli lain yang menawar guci yang tadi seharga 100 jt. Tapi pembeli tadi baru akan membayar keesokan lusanya. Padahal pembelinya itu adalah Chairil yang menjadi partner konspirasi yang dilakukan Mus.

Target dipersilahkan untuk memiliki guci yang memiliki nilai sejarah yang tinggi dengan harga separuh dari harga pembeli kedua dengan syarat dibayar hari itu juga. Pembeli kedua tiba-tiba menelpon target dan menunjukan sikap seakan-akan sedang memperebutkan barang yang sangat penting.

Target mendadak tergiur untuk memiliki guci yang memiliki nilai sejarah yang tinggi dengan harga separuhnya. Ia mulai membayangkan bisa memiliki benda yang menambah prestige dikalangan selebriti dan pejabat daerah senilai 100 jt.

Akhirnya korban melakukan transfer secara online dalam beberapa tahap, lalu pelaku mengirimkan resi pengiriman yang sebenarnya tidak pernah ada. Korban pun melaporkan penjual ke pihak yang berwajib.

Ketika saya pulang, sambil naik motor saya mulai berpikir dan mengambil kesimpulan kalau gendam itu sebenarnya bukan merupakan ilmu hitam. Tapi sekedar sugesti yang mampu mengganggu konsentrasi target dari apa yang menjadi fokus tujuan. Ini sebenernya bukan asal bunyi. Konsep ini setidaknya memiliki scientific appoach yang sedikit beririsan dengan disiplin ilmu politik dan komunikasi. Kalau ga percaya coba cari-cari deh literaturnya, ntar posting dikolom komentar.

Jadi kalau misal kamu lagi kehilangan fokus dari tujuan awal kamu, coba mulai tenangkan diri. Bisa aja sekarang kamu lagi kena gendam.

Categories: Referensi

Emansipasi Kartini » « Penumpang Gelap

3 Comments

  1. kapan lalu mbak ngelarang pulang larut malam, takut gendam, temannya disentuh bahunya terus pingsan dan benda berharganya hilang, itu kata korban. Masih penasaran dengan kasus gendam lainnya utk memastikan gendam bukan ilmu hitam. Nice post kak :)

  2. Aku baru tau tentang gendam. Kok gak familiar sama hal2 begitu ya hahaha entahlah

Tinggalkan Balasan

Email Kamu Ga Bakal di Publikasikan.

*

Copyright © 2017 Semiotika

Theme by Anders NorenUp ↑