Ketika saya mengunjungi pameran seni, saya beberapa kali dihadapkan dengan karya seni yang memuat nilai falsafah yang tidak mampu saya cerna dengan sehat. Setidaknya ada dua kemungkinan hal itu bisa terjadi. Kemungkinan pertama, sang seniman memang sengaja menuangkan pesan imajiner dalam bentuk metafor yang mewakili berbagai nilai yang diadopsi oleh masyarakat marginal. Yang kedua, sayanya aja yang terlalu bego dalam memberikan apresiasi karena minimnya wawasan tentang ragam semiotika.

Ceritanya dimulai ketika saya dan Ervan berhasil mengumpulkan laporan publikasi tugas akhir ke perpustakaan kampus. Karena kami adalah calon sarjana desain yang rencananya bakal diyudisium pekan depan, proses pengumpulan menjadi begitu sakral. Karena sakralnya beberapa teman sempat terlihat malu-malu menyembunyikan isak tangis yang mengharukan. Tidak jelas apakah itu adalah tangis yang menandakan kebahagiaan atau perasaan lega karena telah lepas dari segala siksa.

Setelahnya saya menyempatkan diri untuk mengunjungi pameran pendidikan dasar dari jurusan desain produk angkatan 2014. Masih bersama Ervan, kami berkeliling memperhatikan karya-karya anak pendidikan dasar. Sekedar flashback, pendidikan dasar adalah masa-masa dimana mahasiswa tingkat satu ‘dipaksa’ untuk menjadi anak-anak playgroup. Mereka membuat cratft dengan material dasar yang biasanya bisa ditemukan disekitar kita dan menjadikannya sebuah karya seni yang memiliki nilai sophisticated. Semua cuma untuk satu tujuan: memiliki kepekaan estetis.

Pendidikan dasar ini menjadi paket mata kuliah fardu yang pasti ada di jurusan desain produk, desain interior dan desain komunikasi visual. Mata kuliahnya terdiri dari: menggambar bentuk, menggambar konstruk, rupa dasar 2D dan rupa dasar 3D. Jika ada satu mata kuliah yang fail, berarti mahasiswa harus mengulang sampai lulus supaya bisa mengambil mata kuliah studio, the real course of design yang sebenar-benarnya takwa. Jadi jangan heran ya mahasiswa jurusan desain kuliahnya pada lama.

Setelah berkeliling dan mengkritik sana-sini selayaknya kurator seni yang profesional, akhirnya kami mengikuti sebuah talkshow yang juga menjadi bagian dari pameran tersebut. Acara tersebut menghadirkan Mufti Priyanka atau dikenal juga dengan panggilan Amenk. Beliau cukup terpandang sebagai seniman ilustrasi dengan gaya stensilan tinta rasis, cina.

Amenk memang cukup dikenal dengan karya sentilan yang menurut saya rada-rada vulgar. Mungkin perasaan saya saja. Tapi kalau ga percaya, lihat aja featured image yang ada ada di post ini. Kontroversial kan? Ada lagi beberapa contoh karya lainnya yang menurut para kurator seni memiliki karakter dalam kancah subkultur di Indonesia. Anda dapat menikmati karya lainnya di bawah ini.

Menurut fanartik.com, visual-visual yang disuguhkan oleh Amenk kebanyakan didasarkan pada perilaku-perilaku dan kejadian sehari-hari yang menarik dari pola kehidupan urban kelas menengah kebawah di Indonesia, dimana fenomena tersebut kadang kita lewatkan atau sama sekali tidak menyita perhatian kita, sekedar mengajak kita untuk tersenyum sekaligus renungan terhadap situasi yang ada dijalanan.

tumblr_mql01qmu941r24asro1_500

Subjek yang di gambarkan oleh Amenk banyak dikuatkan oleh puisi-pusi atau narasi-narasi versi Amenk, yang menjadikan karya-karya nya sangat berkarakter dan sangat Indonesia, Amenk hadir untuk menyuarakannya. Visual-visual nya yang menggelitik, yang berisikan tentang kritik sosial, sarkas sekaligus lucu, menepis ketabuan orang-orang dalam mengapresiasi karya seni.

Amenk juga membuat merchandise yang mengusung karyanya dalam bentuk aksesori rumahan, mug, kaos oblong dan lainnya. Biasanya merchandise bisa didapatkan melalui outlet resmi yang muncul pada setiap pameran seni gitu.

IMG_0058

Sebagai seorang calon sarjana desainer (set dah), saya memandang karya Amenk sebagai sebuah produk seni yang mengekspresikan sebuah gagasan yang dipengaruhi oleh lingkungan dan moralitas dari sang seniman. Seperti saya memandang karya Gesang yang lahir dari ekspresi kekagumannya terhadap kehidupan di lingkungan sungai dalam karyanya yang bernuansa etnik. Bengawan Solo.

Mengutip tulisan Jacob Sumardjo, seni adalah sebuah kosmos. Pengalaman Seni selalu berhubungan dengan segala tindak-tanduk seseorang di dunia sehingga manusia dapat menuangkan ekspresi diri dalam sebuah wadah yang disebut seni. Pengalaman hidup sehari-hari itu bercampur aduk, silih berganti, tumpang tindih tak teratur, mengalir seiring dengan waktu. Selama kita hidup dengan realitas, kita akan hanyut dalam suatu pengalaman yang campur aduk tadi.

Yang menjadi menarik adalah, terdapat sebuah garis yang memisahkan antara artefak seni dengan produk desain. Sebuah batas antara seniman yang menjunjung tinggi aspek kebebasan dan ekspresi yang  dinilai mampu melampaui sebuah batasan yang bersifat transenden dengan desainer yang teguh berpegang pada prinsip form ever follows function.

Sepulang dari talkshow saya jadi tidak berhenti untuk memikirkan hal tadi. Bukan tentang seni sebagai kajian filsafat. Bukan juga tentang konteks seni maupun persepsi audiens yang ditinjau dari kajian desain estetika dan lingkungan.

Saya jadi berpikir tentang sebuah batasan. Tentang batasan yang menjadi pilar dalam pijakan pemikiran, sikap dan tindakan manusia terhadap segala sesuatu. Batasan yang menjadi satu-satunya ketentuan umum yang bersifat universal.  Ketentuan yang senantiasa mengikat manusia, alam dan kehidupan.

Sebagai insan persuasif, saya meyakini bahwa tidak ada manusia yang benar-benar bebas menentukan pilihannya sendiri. Tradisi, kultur dan budaya yang ada di masyarakat, komunitas, atau orang-orang terdekat kita selalu mempengaruhi keinginan kita.

Pengaruh tadi akan menjadi  sebuah objek pertimbangan yang menghasilkan sebuah konflik batin yang terjadi di dalam benak setiap manusia. Kita menyebutnya dengan bimbang. Bahkan, manusia yang merasa dirinya bebas melakukan apapun sejatinya akan tunduk dengan kemauannya yang membatasi dirinya sendiri.

Islam hadir dalam mengatur pemenuhan keinginan manusia. Islam memberikan batasan yang jelas tentang pengaturan tersebut. Batasan tersebut bukan untuk menghilangkan keinginan manusia. Melainkan memberikan cara terbaik dalam memenuhi keinginan manusia. Pemenuhan yang dilakukan dengan cara islam bukan hanya sebatas menyalurkan keinginan, tapi juga menciptakan ketenangan hati karena bersesuaian dengan fitrah manusia dan sesuai dengan akal manusia.

Yang diperlukan sekarang adalah tentang bagaimana cara agar menciptakan sebuah lingkungan masyarakat yang memiliki pemikiran, perasan dan pandangan yang sama tentang menilai dan memberikan apresiasi terhadap karya seni dengan sudut pandang yang terbaik.