Pada umumnya, spirit persatuan yang mengikat rasa persaudaraan dari seluruh kemajemukan  bangsa Indonesia muncul dengan sendirinya ketika timnas memasuki babak final. Tidak peduli apapun cabang olah raganya. Dari jajaran penghuni istana negara hingga barak pengungsian korban bencana alam akan kompak mengekspresikan dukungannya. Kalau bukan itu, sudah pasti adalah ketika masuki bulan Agustus. Di bulan ini, seluruh elemen masyarakat dari karang taruna hingga instansi seakan bahu membahu memasang atribut merah putih di lingkungan mereka. Meskipun tanpa instruksi dari surat edaran yang ditanda tangani oleh kelurahan setempat, mereka tetap mengadakan berbagai lomba dengan punuh inisiatif. Sebuah momen dimana sikap patriotisme nasionalis bisa bersanding sejajar dengan tawa kegembiraan.

Hal ini nampaknya tidak berlaku di tempat tinggalku. Sebuah kawasan yang entah kenapa tidak diakui oleh peta milik Google sebagai bagian dari wilayah kota Balikpapan. Di kawasan itu tinggalah seperangkat warga apatis. Mereka sangat pasif dalam menyambut hari dimana teks Proklamasi dibacakan. Tidak ada satupun warga yang antusias menghias gapura sebagaimana himbauan Lurah setempat. Jangankan menghias gapura, mengibarkan bendera merah putih saja nampaknya mereka enggan.

Jika nasionalisme dipahami sebagai sebuah ikatan yang muncul karena persamaan lingkup hidup bernegara, maka terdapat banyak nilai-nilai nasionalisme yang dikhianati oleh penduduk setempat. Entah apa jadinya jika negara ini berada pada kondisi darurat militer. Sudah dipastikan penduduk tersebut akan menghindari segala bentuk konfrontasi dengan membentuk gerakan non blok.

Bagi seseorang aktivis yang menjunjung tinggi pancasila sebagai dasar ideologi umat manusia (atau paling tidak bagi mereka yang tinggal di Indonesia), sikap warga tersebut merupakan sebuah makar yang perlu ditindak secara serius. Mobilisasi massa untuk turun ke jalan dan menjalankan aksi sweeping demi menemukan alat bukti yang diperlukan menjadi penting. Siapa yang tahu jika salah satu rumah tersebut digunakan oleh mereka yang menginginkan berdirinya negara baru.

Tapi Kalau boleh jujur, apa yang dilakukan oleh warga tadi merupakan ekspresi paling murni dari segala bentuk perwujudan makna merdeka itu sendiri. Apalah makna dari sebuah kata merdeka jika penduduk negeri ini tidak diperkenankan untuk menolak, atau bahkan terpaksa memperingati hari proklamasi kemerdekaan. Jangan-jangan kita ini …