Semiotika

Emansipasi Kartini

Berbicara mengenai Kartini, rupanya saya jadi teringat dengan seorang teman mahasiswi semasa perkuliahan. Kami memang tidak begitu dekat. Di suatu sore menjelang wisuda, kami sempat berbagi cerita.

Ia adalah seorang mahasiswi jurusan desain interior yang lulus dengan predikat cumlaude. Sebuah predikat paling bergengsi yang disandang oleh para wisudawan dan wisudawati. Predikat ini didapatkan ketika seorang mahasiswa berhasil lulus dengan Indeks prestasi kumulatif (IPK) lebih dari 3,5.

Tidak heran karena nilai yang tertera di transkrip didominasi oleh huruf A yang artinya excelent. Huruf B bersifat resesif. Walaupun mereka ada, keberadaannya hanya sebagai aksen penghias notasi keberagaman yang mengantarkannya pada gelar wisudawan terbaik angkatan 2015.

Saat itu kami saling berspekulasi tentang masa depan, ia akan melanjutkan studinya untuk mendapatkan gelar Master of Design di Sydney, Australia. Dari sinar matanya ketika ia mengungkapkan planning pasca kelulusan, entah mengapa semua yang ia katakan terasa logis. Jauh berbeda ketika saya menjawab rasa penasaran dosen pembimbing yang melontarlan pertanyaan serupa. “ingin pulang kampung dulu bu, kangen sama orang tua,” saya menjawab dengan santun.

Semasa kuliah, ia rajin mengikuti kegiatan kampus. Berbagai kegiatan seminar senantiasa ia ikuti. Bukan hanya sebagai peserta, terkadang ia juga merangkap sebagai panitia. Dari aktivitasnya itu, ia dikenal oleh sebagian besar civitas akademik. Kemanapun ia melangkah, selalu ada orang yang menyapa. Dari kalangan terdidik, maupun yang pernah berhubungan dengan penyidik.

Reputasi yang dimilikinya tidak lantas membuatnya lalai dari aktivitas akademik. Ia menghabiskan malamnya untuk mengerjakan tugas-tugas yang diberikan oleh Dosen. Di semester awal, ia memang hanya memiliki kesempatan untuk menyelesaikan kewajibannya saat menjelang pagi. Bukan karena ia malas. Melainkan karena ia harus menunggu temannya selesai mengerjakan tugas dan tertidur pulas. Hampir setiap hari ia menginap di kosan temannya untuk menyelesaikan tugas di leptop yang bukan miliknya. Bahkan pernah suatu saat ia sampai tidak tidur hanya demi mengejar deadline yang hampir berbarengan dengan kelas pagi.

Jurusan desain memang menuntut peserta didik untuk memiliki perlengkapan yang proper guna menjaga kualitas craftmanship dari masing-masing karya yang dihasiilkannya. Untuk itulah, biasanya para orang tua tidak segan untuk menggelontorkan dana yang tidak sedikit demi kemajuan belajar anaknya. Terkadang, hal ini dimanfaatkan oleh anak-anak yang tidak tahu diuntung untuk membeli perangkat penunjang dengan spesifikasi maksimum. Bukan untuk tujuan awal yang mulia. Tapi untuk bermain DoTA.

Hal ini nampaknya tidak berlaku bagi teman saya ini. Kondisi finansial keluarganya mengharuskan ia untuk menjadi kreatif dalam membiayai dirinya sendiri. Ia mendapatkan potongan biaya kuliah dari insentif beasiswa yang diterimanya setiap semester. Untuk menutupi kekurangannya, ia menjadi assisten dosen yang mengajar mata kuliah dasar, Tahap Persiapan Bersama (TPB). Selain itu ia juga menjadi asisten Lab Bahasa Inggris. Ketika itu, ia banyak sekali memberikan tips yang sangat bermanfaat pada saat saya mengambil mata kuliah bahasa inggris. Sisa-sisa waktu yang dimilkinya ia gunakan untuk menggarap freelencer project, maupun aktif mengikuti sayembara kampus.

Pernah pada suatu hari, ia mengikuti sayembara desain bangunan gedung serba guna (GSG) dan desain jalur wudhu di masjid kampus. Alhasil ia dinyatakan menang dan diberi imbalan sebesar dua ratus lima puluh ribu rupiah. Hal yang membuatnya bangga adalah hasil rancangannya mendapatkan aproval untuk diwujudkan oleh pihak rektorat.

Ia merasa bahagia sampai tiba saatnya ia mengetahui bahwa ia telah diperdaya oleh yayasan. Sampai saat ini, rancangannya masih tegak berdiri dengan meninggalkan bekas luka akan kenangan seorang junior interior desainer wannabe yang desain rancangannya dicatut oleh seorang kontraktor third party yang disewa yayasan dengan nilai proyek 1,5 miliyar rupiah.

Cita-cita untuk meneruskan pendidikan di luar negeri muncul ketika ia menjadi Research Assistant di The University of Melbourne dan Monash University. Melalu jaringan internasional yang dimilikinya, ia membantu para kaum intelektual dalam mengumpulkan data riset serta menuliskan transkrip penelitian. Dari apa yang telah ia lakukan, ia merasa memiliki peluang untuk melanjutkan study di sana.

Pada akhirnya, ia memulai satu lompatan untuk mengikuti kursus bahasa Inggris tingkat lanjut demi memenuhi impiannya itu.

Jika ada seseorang wanita yang pantas untuk menerusakan cita-cita mulia yang diemban oleh Kartini, mungkin ia adalah satu dari sekian banyak wanita yang berhak untuk mendapatkannya. Sempat saya berasumsi bahwa apa yang selama ini dilakukannya adalah sebagai bentuk aktualisasi diri serta pemenuhan ambisi pribadi, maka asumsi itu segera terbantahkan manakala ia mengungkapkan motivasinya di sore itu.

“Supaya bunda bisa tersenyum dan bangga sama aku,”  — Asdit 

Categories: Literasi

Jessica Veranda » « Memaknai Gendam

6 Comments

  1. Terharu gue dengan semangat juangnya mbak asdit, meski nggak punya laptop bukan berarti tidak bisa menyelesaikan tugas :)
    Kunjungan pertama nih bro, follback bila berkenan.

  2. Keren amat. Aku kayanya gak ada apa-apanya dibanding dia hahaha aku bukan Kartini Masa Kini -___-

Tinggalkan Balasan

Email Kamu Ga Bakal di Publikasikan.

*

Copyright © 2017 Semiotika

Theme by Anders NorenUp ↑