Semiotika

Selembar Kertas

Perasaanku mulai tidak enak semenjak Ibu Puji Astuti, seorang guru mata pelajaran ilmu pengetahuan alam beranjak keluar meninggalkan kelas. Guru yang akrab kusapa Bu Puji itu merupakan guru yang belum genap sepekan mengabdikan dirinya demi mencerdaskan penghuni kelas 4B Sekolah Dasar Negeri di kecamatan sebuah kota terpencil. Beliau meninggalkan catatan di papan tulis tentang langkah-langkah mencangkok pohon mangga yang diuraikan ke dalam bagan, lengkap dengan gambarnya. Seluruh siswa antusias mencatatnya di buku tulis bersampul coklat dengan sebuah petuah mutiara yang menjadi slogan para juara kelas: rajin pangkal pandai.

Seperti biasanya, Bobi sang ketua kelas mulai mendisiplinkan kami agar tidak ribut. Sebelumnya ketua kelas memang telah diamanahi oleh Ibu Purwaningsih, wali kelas kami untuk mencatat nama-nama murid yang suka berisik. Hal ini dilakukan setelah menimbang reputasi kelas kami yang memang terkenal akan ketidak kondusif-an-nya. Terutama ketika guru sedang tidak berada pada posisi yang seharusnya. Luar kelas.

Bobi mulai merobek selembar kertas. Murid-murid yang lain diam-diam  memperhatikan. “Kalau aja ada yang ribut, ntar saya catat di sini, paham?” Bobi memasang air muka sungguh-sungguh sambil menyapu pandang seluruh penghuni kelas yang saat ini mulai ketakutan sembari meneruskan catatannya yang belum selesai.

Bobi Kurniawan adalah sosok ketua kelas yang memecahkan rekor sebagai ketua kelas yang paling lama menjabat di angkatan kami. Dia memulai karir sebagai penyambung lidah siswa semenjak berada di kelas satu. Tentu saja pada saat itu, Bobi di tunjuk langsung oleh wali kelas secara perogratif sebelum sistem demokrasi diterapkan di kelas dua.

Secara fisik, Bobi adalah seseorang yang cukup tampan. Ia juga pintar. Pembawaan yang rapi membuat dia serupa dengan pria flamboyan yang sering muncul di layar kaca saban petang. Pribadi yang mampu membuat ibu-ibu berdecak kagum terhadap dirinya. Jika ibu dari teman-temanku memarahi anaknya, sudah dapat dipastikan nama Bobi menjadi al furqon, sosok pembeda antara yang ma’ruf dan yang munkar.  Antara anak baik dan yang dirasa tertukar. Kami selalu dibuat iri terhadapnya.

Namun dari kesempurnaan yang telah dimilikinya tersebut, Bobi memiliki satu kekurangan. Matanya juling. Ketika tadi Bobi menyapu pandang seluruh murid kelas, perspektif kami melihat dirinya sedang memandang lukisan para pahlawan yang tergantung di sekeliling kelas satu persatu. Dari lukisan Teuku Umar, hingga Tuanku Imam Bonjol. Pelajaran hidup nomer satu, tuhan itu maha adil.

Di kelas dua, Bobi kembali menjadi ketua kelas melalui hasil voting suara yang dilakukan oleh anggota kelas. Terpilihnya Bobi menjadi ketua kelas karena dia adalah siswa yang menempati peringkat pertama pada saat di kelas satu. Reputasi juara kelas itu yang kemudian masih bertahan hingga kini, berikut dengan jabatan sebagai ketua kelas yang mungkin akan menjadi jabatan seumur hidupnya.

Tentu saja, jabatan yang terlalu lama diemban oleh seseorang biasanya secara otomatis membuat orang tersebut menjadi selayaknya mulkan ‘adhon, penguasa yang menggigit dan semena-mena. Sama seperti temanku yang saat ini sedang berkeliling selayaknya seorang mandor yang mengawasi kinerja para kuli bangunan.

Aku melanjutkan untuk menyelesaikan catatanku. Menulisnya serapi mungkin agar sedikit terasa menyenangkan ketika dibaca. Di bagian tengah dari bidang buku, aku menggambar pohon mangga dengan memperhatikan aspek estetis yang perlu ditambahkan. Sedikit asiran pada tepi dahan tentu menimbulkan kesan bayangan. Belum lagi, aku memberikan warna gelap pada bagian daun. Membuatku lupa kalau ini bukan mata pelajaran kesenian.

Di tengah prosesi yang menyenangkan tersebut, aku merasa ada yang memanggilku dari belakang. Ah, mungkin perasaanku saja. Aku kembali menambahkan bagan keterangan sesuai dengan apa yang tertulis di papan tulis. Sekali lagi, aku merasa ada seseorang yang dari tadi memanggilku. Perlahan aku mulai memastikan dengan menoleh ke belakang. Binggo, aku termakan jebakan.

“Kamu yang noleh kebelakang udah saya catat” Bobi mengucapkannya secara perlahan dengan mantap. Wajahnya tegas. Bola matanya menatap lukisan Sultan Hasanudin. Sial, aku lupa dengan Borneo, salah satu tangan kanan atau lebih tepatnya ajudan yang menjadi tim sukses dari sang ketua kelas.

Biar kuceritakan sedikit tentang siapa seseorang yang telah berhasil menjebak diriku. Nama lengkapnya adalah Borneo Tortuga. Aku menduga ayahnya adalah seorang pemburu kura-kura. Ia mulai akrab dengan Bobi semenjak duduk di kelas dua. Pada saat itu mereka satu meja. Entah apa saja yang telah mereka lakukan di meja itu sampai mereka bisa menjadi dekat dan bersahabat seperti sekarang.

Pada waktu voting pemilihan kandidat ketua kelas pertama kali, nama Bobi Kurniawan terpampang sebagai calon ketua kelas berkat hasutan anak berkulit gelap ini. Suksesnya Bobi menjadi ketua kelas artinya adalah turut diangkatnya Borneo menjadi pejabat program 5K. Meliputi seksi kebersihan, keamanan, ketertiban, keindahan dan kekeluargaan. Tentu saja semua itu terjadi melalui berbagai tahapan konspirasi politik level anak sekolah dasar. Kesuksesan itu selalu mereka rayakan dengan berpesta es lilin di bawah pohon ketapang.

Kondisi kelas yang kondusif sendiri bagi seorang Bobi Kurniawan untuk saat ini bukanlah sesuatu yang membahagiakan. Baginya, catatan yang nanti akan diserahkan pada Bu Pur wali kelas kami, merupakan puncak dari pengharapannya serta momen pembuktian atas kepemimpinannya dalam meringkus oknum pelaku kejahatan yang selama ini membuat kelas menjadi berisik. Paling tidak harus ada satu nama untuk diserahkan demi menjaga reputasi serta martabat sang ketua kelas kepada atasannya. Yaitu dengan cara melakukan kriminalisasi seperti yang saat ini berhasil mereka lakukan. Dan aku menjadi tumbalnya.

Aku mulai membayangkan apa yang terjadi dengan diriku ketika catatan itu sampai kepada tangan wali kelas. Hukuman teringan yang pernah ku alami adalah berdiri menghormat kepada sang saka merah putih yang tegak di sudut kelas selama dua jam pelajaran. Yang terberat adalah mengabdikan diri untuk membersihkan toilet siswa yang kenajisannya tidak ada duanya. Konon katanya, sering terlihat penampakan seonggok kotoran siswa yang masih segar tercecer di pintu masuk tempat kejadian perkara.

Aku sudah mencukupkan diri dari pengalaman pahit itu. Aku tak mau mengenangnya lagi. Apalagi mengulanginya lagi. Segala hal pahit yang telah terlewati seakan menjadi guru terbaik yang senantiasa menasehatiku untuk tidak kembali terjerumus ke dalam dunia hitam. Kini, aku adalah siswa kelas 4B baik-baik. Yang kebetulan mengalami tindak kriminalisasi oleh beberapa oknum yang tidak bertanggung jawab.

Dan sekarang aku sedang berpikir, bagaimana cara agar bisa terbebas dari tuduhan ini. Secara de facto, aku termasuk hamba yang terdzhalimi. Namun sudah di pastikan Bu Pur akan mempercayai Bobi Kurniawan sang petugas kelas yang telah diamanahinya. Yang ku perlukan saat ini hanyalah sebuah momen. Sebuah momen yang mampu menyulut sebuah pemberontakan.

Sembari termenung, aku teringat kejadian absurd dua atau tiga hari yang lalu. Ketika aku sedang berbincang dengan seorang teman. Frans, namanya memang sedikit kebarat-baratan. Teman-teman lebih sudi memanggilnya Taher. Nama bapaknya. Waktu itu ia sedang curhat prihal tititnya yang baru disunat. Dalam keresahannya, ia mempertanyakan mengapa tititnya mirip dengan mulut ikan. Aku kehilangan fokus. Kembali ke dunia nyata.

Karena namaku telah tercatat, suasana kelas kembali cair. Bobi telah mendapatkan apa yang dia inginkan. Teman-teman yang lain merasa lega karena merasa cukup terwakilkan selayaknya pelaksanaan fardu kifayah. Seketika itu pula aku mendekat menghampiri Taher yang sedang menggambar dinosaurus di bawah pohon mangga yang sedang dicangkok.

Taher adalah seorang yang mudah tertantang. Separuh hidupnya ia habiskan untuk berjudi. Dengan kartu kuwartet yang dimainkan dengan cara diambung. Kartu siapa yang jatuh dengan cara terkelungkup, maka ia tidak berhak atas kartunya. Permainan yang sangat filosofis. Kali ini aku menawarkan sebuah tantangan yang jauh besar. Mungkin akan menjadi yang pertama dalam hidupnya.

“Taher, kamu jantan kan?” Dia menghentikan gambarnya, balik memandang. “Makusutmu apa? hah?” Nadanya tinggi, menunjukan sikap tidak terimanya persis seperti yang ku harapkan. “Orang yang jantan biasanya berani menunjukan kejantanannya di depan kelas” Kataku pelan. Aku diam sebentar. Lalu perlahan mendekat berbicara di depan wajahnya. “Kamu pasti ga bakalan bisa.” Aku pergi kembali menuju meja tempat dimana aku berasal.

Lalu dari mejaku aku mulai berbisik dengan teman-teman disebelahku. “Dua ribu lima ratus rupiah, kalau Taher berani menunjukan kejantanannya di depan kelas saat ini juga.” Bisikan itu pun saling bersambut dengan nominal yang semakin meningkat. “Dua ribu sembilan ratus.” kata murid yang ada di depanku. “Tiga ribu.” murid yang di belakang tidak mau kalah. “Tiga ribu dua ratus.” Sahut murid yang paling belakang. Aksi taruhan yang mekanismenya hampir sama dengan pasar lelang tersebut menjalar cepat sebagaimana pancaran gelombang sinus pada diagram cartesius. Bahkan hingga sampai ke telinga sang Ketua Kelas. “Lima ribu rupiah, pegang kataku.” Ketua Kelas Bobi Kurniawan merespon umpan balik dengan jumlah nominal yang fantastis untuk anak sd pada saat itu.

Frans alias Taher. Anak berusia sepuluh tahun kini sedang diuji oleh teman-teman sekelasnya.  Baginya ini bukan sekedar pemenuhan keinginan terhadap lembaran rupiah dengan nominal lima ribu yang dijanjikan oleh Bobi Kurniawan. Ini adalah permasalahan antar laki-laki yang belum dewasa yang sedang diremehkan oleh spesiesnya. Harga dirinya saat ini sedang bergejolak. Meronta-ronta ingin melawan anggapan bahwa ia tidak akan mampu menununjukan kejantanannya di depan kelas.

Dengan sepontan Taher beranjak dari meja tempat dia berasal. Ia memandang Bobi Kurniawan dengan tajam. Lebih tajam daripada pisau cutter yang diasah. Dalam tatapannya ia seolah-olah berkata. Cukup diam wahai bedebah, lihat baik-baik apa yang akan kulakukan. Ia mulai melangkahkan kaki perlahan menuju panggung kelas dengan meyakinkan. Aku diam, terpaku di tempatku. Hatiku dibuatnya penasaran, tidak sabar melihat apa yang akan terjadi.

Suasana kelas perlahan mulai tidak kondusif. Semua siswa menghentikan aktivitas mencatat bagan anatomi pohon mangga yang ada di papan tulis. Mereka mulai berbisik. Saat ini fokus perhatian kepada Taher yang sudah berdiri menghalangi pandangan penghuni kelas dari papan tulis. Ia mulai berdehem pelan. Menyiratkan kalimat, perhatikan sini wahai anak muda. Kondisi penghuni kelas menatap dengan penuh. Sedangkan Bobi memperhatikannya dengan air muka yang penuh serius. Pandangannya menatap vas bunga.

Yang dimaksut dengan menunjukan kejantanan dalam hal ini adalah memamerkan kelebihan yang dimiliki oleh siswa kelas 4B di depan kelas. Sepekan yang lalu dalam pelajaran matematika, Bobi Kurniawan berhasil menunjukan kejantanannya dengan melafadzkan hapalan perkalian satu sampai sembilannya. Dalam pelajaran penjaskes, Borneo  dengan sukses memperagakan sikap lilin selama tiga puluh detik. Sedangkan aku, dengan seksamanya mengumandangkan teks pembukaan Undang-Undang Dasar 45 pada pelajaran PPKN. Prestasi yang cukup membanggakan.

Beberapa murid tidak berani ujuk kebolehannya karena dua hal. Yang pertama kebanyakan murid kurang percaya diri terhadap kemampuannya. Yang kedua, ia tidak masuk sekolah. Pada waktu itu, Frans termasuk yang kedua karena ia cuti sekolah sedang disunat.

Secara tiba-tiba Taher melucuti celana warna merahnya. Kami hilang akal. Para siswi berteriak histeris. Suasana chaos. Aku hanya bisa melafadzkan asma-asama ilahi. Mempertanyakan pada semesta mengapa anak berusia sepuluh tahun ini  tidak mampu menafsirkan kejantanan secara metafor.

Walaupun konteksnya memang pelajaran ilmu pengetahuan alam dan kami sedang mempelajari anatomi pohon mangga, tidak serta merta siswa-siswi kelas 4B siap menyaksikan peragaan sains yang memamerkan anatomi batang manusia hidup yang baru selesai mengalami vegetasi buatan dan masih terlihat begitu berantakan. Di tengah-tengah kericuhan aku melihat Bobi dan komplotannya menyambut dengan positif. Terlihat dari sikapnya yang menepuk-nepukan tangan seraya memberikan dukungan. Ayo bagus, terus, teruss, terusss. Mereka tertawa bahagia.

Kini Taher mulai menggerak-gerakan pinggulnya searah dengan jarum jam, si jantan berputar-putar seperti baling-baling helikopter yang kehilangan awak. Wajahnya sumringah. Bangga mempertontonkan mulut ikan yang dulu pernah ia risaukan. Pemandangan yang seharusnya tidak di konsumsi oleh siswa kelas 4 SD Negeri manapun diseluruh pelosok nusantara. Guru-guru mulai berdatangan. Penasaran dengan keributan yang telah terjadi. Pertunjukan tidak lama berakhir. Frans alias Taher diamankan. Ketua Kelas dimintai keterangan. Catatan selembar kertas kini bukan lagi menjadi soal yang mengkhawatirkan. Isu berhasil teralihkan dan diriku terselamatkan.

Categories: Intuisi

Entitas Seni » « Pangeran Khatulistiwa

2 Comments

  1. cerita yg tak biasa, lucu yang tak biasa haha makasih

Tinggalkan Balasan

Email Kamu Ga Bakal di Publikasikan.

*

Copyright © 2017 Semiotika

Theme by Anders NorenUp ↑