Semiotika

Pantang Mundur

Dalam permainan catur, terdapat sekelompok bidak yang tidak begitu spesial. Bidak itu bernama Pion. Ia kecil dan bukan satu-satunya. Ia juga tidak bisa bersiasat sebagaimana bidak lainnya karena langkahnya hanya satu, maju ke depan. Di satu sisi, ia tidak begitu diperhitungkan. Namun siapa yang mengira jika bidak kecil ini bisa mengantarkan kita pada kemenangan.

Pion berada pada posisi yang paling rendah. Karena itu ia selalu berpikir bagaimana bisa maju dengan terhormat. Tidak pernah lepas dari prosedur dan pantang melakukan kecurangan. Ia tidak pernah mengambil apa yang bukan menjadi haknya. Jika jalan yang dilaluinya tertutup. Ia akan bersabar. Menanti peluang agar bisa kembali bergerak. Ia berkeyakinan bahwa jalan lurus adalah satu-satunya jalan yang dimilikinya.

Tidak pernah ia lelah dalam berusaha dan berdoa. Ia sadar bahwa dirinya bukan siapa-siapa. Oleh karenanya ia siap jika harus tergantikan dengan yang lainnya.

Dalam peraturannya, pion memang tidak bisa menggantikan posisi Raja. Namun begitu, ia bisa bertindak sebagai Menteri dalam kondisi tertentu. Sebuah kondisi dimana sebuah pion berada di akhir langkah lurusnya.

Sama halnya dengan hidup ini, kita yang bukan siapa-siapa ini kelak akan menjadi istimewa dengan sendirinya jika kita berada di akhir langkah yang lurus. Maka jangan pernah lelah untuk berusaha dan berdoa agar kita berada di jalan yang benar dan bersama-sama memenangkan permainan.

Categories: Intuisi

Ancaman Lebaran » « Jessica Veranda

1 Comment

  1. pion bisa kok menggantikan raja, tapi itu di dunia nyata yang lebih absurd dari sekedar taktik di papan catur, alasannya sudah ditulis tuh di paragraf terakhir itu :D

Tinggalkan Balasan

Email Kamu Ga Bakal di Publikasikan.

*

Copyright © 2017 Semiotika

Theme by Anders NorenUp ↑