Semiotika

Ancaman Lebaran

Bagi muslim sedunia, Idul Fitri atau yang lebih dikenal dengan istilah Lebaran merupakan hari yang penuh suka cita. Momen dimana sanak famili, sahabat dan orang-orang terdekat berkumpul untuk merayakan kemenangan, saling memaafkan dan membahagiakan terjadi dengan sendirinya. Aku turut menjadi bagiannya.

Sepertinya tidak demikian dengan Ismail. Ia tampak resah jika berada di tengah kerumunan yang sebenarnya adalah keluarganya sendiri. Air mukanya selalu berubah tegang ketika orang-orang mulai membuka percakapan dengannya. Dia lebih nyaman berduaan dengan gadget ponselnya yang sering ia mainkan ketimbang berbasa-basi dengan orang-orang terdekatnya.

Aku pernah membaca artikel yang memuat jurnal medis mengenai Agorafobia. Pada jurnal itu, dijelaskan bahwa Agorafobia merupakan jenis gangguan kecemasan di mana penderitanya akan menghindari berbagai situasi yang mungkin menyebabkan dirinya panik. Penderita mungkin tidak mau meninggalkan rumah. Saat berada di luar rumah, mereka bisa merasa terjebak atau malu yang akan memicu serangan panik.

Ismail bukanlah penderita Agorafobia. Kecemasan itu baru terlihat ketika momen Idul Fitri ini menjelang. Sebelumnya ia periang. Pemuda berkulit gelap yang merupakan sepupu dari keluarga ayahku ini juga bukanlah seorang introvert. Iya memiliki banyak teman di tempat perantauannya. Secara psikografis, ia masuk dalam kategori narcissistic exhibitionism.

Rupanya rasa penasaranku terhadap Ismail terbaca oleh papanya yang sedari tadi memperhatikan gerak-geriku. Perlahan dengan pasti ia mendekat dan menepuk bahuku dengan kaku. Aku tersadar menatapnya sejenak, lalu mengembalikan pandanganku ke arah mahasiswa tingkat sangat akhir yang saat ini sedang autis bermain clash of clans.

“Dia takut ditanya kapan lulusnya,” Bisiknya pelan.

Categories: Intuisi

Memaknai Kemerdekaan » « Pantang Mundur

1 Comment

  1. baru tahu istilah Agorafobia.

Tinggalkan Balasan

Email Kamu Ga Bakal di Publikasikan.

*

Copyright © 2017 Semiotika

Theme by Anders NorenUp ↑